Welcome!!! Awak Datang Kamek sambot!!!

Kamis, 08 Juli 2010

Email at the morning,

2 comments
pagi itu, tepat tanggal 6 bulan 6 tahun 2010, aku telah bangun sekitar pukul 4.30 untuk melaksanakan sholat shubuh. Setelah melaksanakan sholat karena pagi itu hujan lebat sekali, dan begitu dingin, akhirnya aku memutuskan untuk tidur kembali. aku baru tebangun sekitar pukul 6 pagi. Ketika terbangun aku langsung mengambil Telpon seluler ku untuk mengecek email masuk. Hal ini kulakukan setiap hari karena memang pihak Aminef selaku panitia pelaksana program beasiswa ku ini selalu meng update informasi melalui email. Aku memang dituntut untuk selalu up date informasi, Apa lagi aku direncanakan berangkat tanggal 8 juni, atau dua hari lagi.
Ketika ku buka Email, ku, aku meilhat disana ada 1 pesan masuk, dan tertulis dari ibu Rtana MAnurung, staf aminef yang selalu memberikan info terbaru kepada ku. Ku lihat subjek nya “tiket keberangktan”. Alangkah senangnya hati ku membacanya. Kemudian langsung ku klik tepat di tulisan itu untuk membukanya. Setelah terbuka langkah terkejutnya aku membaca tulisan “ini tiket keberangkatan mu ke Jakarta tanggal 6 Juni”, aku berfikir sejenak sambil mengngat tanggal hari itu, dan….. astagfirullah masyaallah….. aku berteriak “Ha? tanggal 6 itu kan hari ini!”, aku langsung spontan kaget, secara aku kan masih di ketapang, sementara tiketnye menunjukan keberangkatan ku dari Pontianak… trus ada tulisan, “etiket mu ada saya lampirkan bersama email ini” wah aku langsung bergegas menuju motor ku untuk pergi ke warnet untuk mengunduh tiket yang dalam bentuk PDF itu. Mana hari hujan sangat lebat, aku bergegas menuju motor dan mengeluarkanya dari rumah dengan tergesa-gesa, nafas ku ngos – ngosan… wuih…. Kelabakan sekali.
Ketika sedang menaiki motor ku, aku teringat kalau saat itu masih terlalu pagi dan aku tidak yakin aka nada warnet yang buka. Aku berfikir keras sekali, mencari cara untuk mendownload etiket itu. Dan akhirnya aku baru kingat kalau telpon seluler ku bisa dijadikan modem kalau di sambungkan dengan labtop ku. Dan aku pun langsung masuk kembali. Setelah semua terpasang aku pun berhasil membuka tiket itu. Dan alangkah leganya kau ketika membaca tanggal yang tertera di tiket itu, yaitu tanggal 8 juni 2010, berarti masih ada watu 2 hari lagi. “Huh, ternyata bu Ratna salah menginformasikan ku”, gumam ku.
Setelah dua hari, akhirnya tiba juga hari keberangkatan ku. Aku telah berada di Pontianak sehari sebelum hari keberangkatan ku yaitu pada tanggal 7 juni. Aku berangkat dari Pontianak Pukul 11.45 siang. Diperkirakan aku akan sampai di bandara Soekarno Hatta pada pukul 1.15. yah masih ada waktu bagi ku untuk pergi ke kantor aminef untuk mengambil Visa, passport serta uang sakuku. Tepat pukul 10.30 pagi aku pun berangkat menuju bandara. Sesampai disana aku langsung check in. dan disini lah bencana dimulai. pasalnya ketika itu aku meminta bagasi ku di check thru artinya aku minta agar task u di bagasikan sampai ke Miammi air port. Namun si penjaga counter check in itu terlihat bingung, karena dia tidak yakin kalau hal itu bisa dilakukan.
Dia menwarkan untuk mengamil bagasi ku di Narita air port jepang saja, karenba dia ragu apakah bisa langsung ke Miammi. Akhirnya aku menyetujui. Dan tanpa membaca kembali tiket yang telah divcap serta kertas bagasi yang diberikan, aku langsung menuju ke ruang tunggu.
Sesampai diruang tunggu, aku baru mengetahui kalau pesawat garuda yang akan ku tumpangi ternyata delay selama 30 menit. Seteal menuggu sekitar 45 menit akhirnya aku pun berangkat. Sampai di Jakarta sekitar pukul 14.00. tanpa memikirkan bagasi ku, aku pun langsung mencari counter check in penerbangan internasional. Setelah susah payah mencari aku sampai juga, etrnyata ada di lantai 2. Sesampai disana aku langsung check in, dan terjadilah dialog dengan penjaga counter yang super ramah itu
Aku: mau check in mbak.
Dia: Mau kemana bapak?
Aku: (kok bapak sih?) emmm… mau ke US
Dia : Lewat narita?
Aku: iya
. . .
Dia: Ada bagasi?
Aku: iya
Dia: mana?
Aku: kan udah di check thru ke Narita?
Dia: bisa saya liat tiketnya? Emmm…. Wah ini sih harus di ambil di Jakrata pak
Aku: wak?????? Jadi?
Dia ya bapak turun lagi kebawah, trus ambil dan bawa kesini
Oh my God…..
Aku pun turun lagi mencarinya, sampi setengah jam aku berkeliling mencari keberadaan bagasi itu, untung lah ada seorang petugas yang baik hati mengnatar ku. Dan ketemu lah bagasi itu. Setelah semua kuserahkan aku pun langsung menuju ke pintu keluar untuk mencaari Bis menuju kantor aminef. Sebelum meninggalkan counter mbak itu berpesan agar aku harus sudah berada di ruang tunggu paling lama pukul 18.40, sementara ketika itu sudah menujukkan waktu 15.00, yah bergegas aku menvari bis. Awalnya perjalanan lancer, namun beru sekitar 15 menit berjalan, bis kami terjebak macet yang super panjang karena ketiak itu Jakarta dilanda banjir, masayaallah, gelisahnya diri ku, ingin rasanya terbang kalau saja aku punya sayap.
Sampai sekitar 1 jam bis kami masih saja merayap sangat pelan sekali. 10 menit, 15 menit, 25 menit, waktu terasa cepat sekali berlalu, semtara bis tak kunjung bergerak juga, htai k uterus bergetar, aku takut sekali ketinggalan pesawat, karena kalau aku harus membayar sendiri tiket itu, maka aku tak kan mampu, sebagai informasi, tiket dari Pontianak ke Champaign (tempat ku akan tinggal) itu seharga Rp 35 juta an. Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 aku semakin gelisah.
Tanpa kusadari ternyata bapak-bapak yang duduk disebelah ku menyadari kegelisahan ku, setekah ku ceritakan semuanya ia pun menyaran kan ku untuk turun saja dari Bis untuk menggunakan taksi atau ojek biar lebih cepat. Setelah ku pikir ternyata benar juga. Akhirnya aku turun, dan langsung mencari taksi (sebenarnya aku lebih suka pakai ojek, namun karna saat itu hujan gerimis maka aku memilih taksi). Ternyata keputusan ku memeilih taksi itu salah total. Dak kami pun juga terjebak di macet yang sama parahnya.
Setelah menuggu dengan sangat gelisahnya, aku pun sampai di aminef tepat pukul 18.15, 30 menit lagi dari waktu aku ahrus sudah berada di ruang tunggu. Aku pun langsung menuju kantor aminef, disana aku menmui Pak Piet sedang menunggu ku (gak enak rasanya membuat beliau menunggu, padahal seharusnya ia sudah pulang karen saat itu bukan jam kantor lagi).
Tanpa panjang lebar, ia pun menyerahkan semua dokumen yang ku perlukan serta memberikan uang saku ku. Kemudian ia pun langsung menyuruh ku berangkat. Menuju ke bandara aku menggunakan taksi yang sama. Aku meminta dia untuk ke bandara seceoat mugnkin, aku minat dalam waktu 30 menit, namun dia tidak menyanggupi, akhirnya ya terserah bapak lah. Pkoknya secepat mungkin. Diperjalanan kami juga masih terjebak macet. Hati ku semakin gelisah, 15 menit sudah berlalu, tapi kami masih saja merayap, kejalan tol pun belum sampai. Hati ku s emakin galau, gelisah, khawatir. Aku takut keberangkatan ku gagal hanya karena terjebak macet. Setelah 20 menit Pak piet kembali menelpon ku. Alangkah senangnya hati ku mendengar apa yang ia katakana.
Pak piet: Dedi udah dimana?
Saya: sebentar lagi mau masuk tol pak
Pak pit: Wah bagus, ded kalau seandainya kamu gak bisa berangkat lagi, ya udah kamu langsung ke hotel sofian aja, trus kamu juga langsung boking tiket untuk besok ya…
Aku: iya pak iya pak. Terimakasih ya pak
Wah lega rasanya karena keberangkatan ku gak bakalan dibatalkan meski pun telat.
Sampai di bandara tepat pukul 19.00, aku langsung menuju counter check in dan menanyakan apakah aku masih bisa berangkat atau tidak. Ternyata masih. Aku pun langsung menuju counter bebas fiscal (kerna kau sudah punya NPWP). Setelah melewati proses imigrasi aku pun langsung menuju ruang tunggu. Disana aku langusng sholat magrib plus Isya. Setelah itu aku langsung menghubungi ayah ku, namun sialnya hp ku ngedrop, dan parahnya lagi aneh bin aneh sekali, HP ku gak mau di cas, padahal biasanya tidak ada masalah.
Hati ku sedih sekali, setelah menyadari kondisi ini. Aku akan berangkat kenegeri yang sangat jauh, dan aku tidak bisa menghubungi orang-orang yang aku cintai. Aku yakin mereka pasti sangat mengkhawatirkan ku…. Hiks hiks….

DARI UJUNG LANGIT (LEWAT DIKIT) MENGEJAR IMPIAN

1 comments

DARI UJUNG LANGIT (LEWAY DIKIT) MENGEJAR IMPIAN
Ujung langit lewat Dikit, dekat danau buaya
Sebenarnya tulisan ini telah ku tulis pada malam sebelumnya, malam sebelum kepulangan ku untuk yang pertama kalinya ke tempat kelahiran ku setelah aku mendapat kan gelar S.Pd ku. Tulisan ini telah kuselesaikan hampir 80% dengan ide ku yang sangat mengalir waktu itu, namun sayang dan sekaligus celaka, karena entah tombl apa yang kutekan ketika itu menyebabkan tulisan itu hilang dan tak bisa kucari lagi. Maklum waktu itu aku langsung menulisnya di halaman post Blogspot ku. Sungguh kecewanya aku.

Tapi it’s oke lah. Sekarang aku sedang berada didalam Express feri menuju ketapang dan kurasakan ide di otak ku sama lancarnya dengan yang taadi malam. Baiklah langsung saja kepokok pembahasana yang pertama –ca ile…emang kuliah hehehehe-…. Yah pembahasan pertama tentang “ujung langit lewat dikit”. Kata keterangan tempat ini memang sih tidak begitu tepat dan akurat, namun paling tidak, kata inilah yang paling bisa menggambarkan letak desa tempat ku dilahirkan. Namnya Desa Riam Danau Kanan, Dusun Kusuma Agung, Kepala desanya Baiturrahman, Sekretaris desanya Rustam Effendi sepupu ku hehehe gak penting kale….

Oke sekarang serius lagi. Desa ini berada di kecamatan paling ujung kabupataen ketapang berbatasan langsung dengan Kalimantan tengah. Kecamatan Jelai Hulu Namanya. Yah wajar saja kalau aku menyebut daerah ini sebagai daerah yang terletak di Ujung langit lewat dikit, karena memang untuk mencapai tempat ini dari kota ketapang diperlukan perjalanan selama 6 jam menggunakan motor trail off road heheh…. Kalau menggunkan Truk atau kendaraan roda empat atau lebih lainya dibutuhkan waktu cukup dengan 2 malam 1 hari saja ….

Jalan yang dilalui juga sangat menantang, maklum jalan menuju tempat ini multi fungsi, selain untuk jalan juga digunakan orang-orang sebagai danau memelihara buaya. Makanya kita musti hati-hati dan harus jeli memilih mana yang jalan dan mana yang danau… habis mirip sih… kondisi ini sudah terjadi begitu lama, setiap mau pergantian kepemimpinana didaerah ini, selalu muncul kata-kata sakti ini “jika saya terpilih jalan ini akan diperbaiki”, namun ya hanya kata-kata, setiap kali kampanye pasti kata – kata itu muncul. Menurut penelitian kata itu sudah mulai beredar di public daerah kami sejak puluhan tahun yang lalu, hingga tak heran, dari anak-anak yang baru belajar bicara sampai orang tua yang tidak mampu lagi berbicara hapal dengan kata-kata ini, tapi tetap saja kondisi jalan seperti itu, sulit membedakan antara jalan dan danau buaya wakakaka….,.

Tapi tenang… bagi anda yang mempunyai jiwa petualang dan tabah serta rajin menabung and pasti bisa sampai kedaerah ini. Satu lagi jika memang ingin mencari daerah ini gak perlu buka peta segala gak penting (hehehe… sebenarnya sih bukanya gak penting, tapi karena memang gak ada dipeta manapun, gak tercantum gitu.). yah itu lah desa ku yang nun jauh disana meski jauh dan penuh dengan kolam buaya, tetap saja selalu kurindukan. Menempati tempat khusus dihati ku.

Mengejar impian

Cukup dah rasanya ku jelaskan tentang ‘diujung langit lewat dikit” sekarang akan ku coba membicarakan tentang “mengejar mimpi”. Ya mimpi siapa saja boleh bermimpi, kapanpun dimanapun. Tapi mimipi ini bukanlah sekedar bunga tidur yang akan sirna ketika bangun dari tidur, atau hilang ketika fajar menyingsing. Melainkan mimpi yang justru mempunyai kekuatan membangkitkan seorang yang sedang tertidur. Yang memberikan arah ketika seorang gamang tak tentu arah, serta tak mempunyai tujuan ketika ia melangkah. Impian ini adalah sesuatu yang sangat ingin dicapai dan dikeajr. Sesuatu yang merupakan obsesi serta inspirasi. Mimpi ini mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk menggerakkan seorang yang terlena, serta dapat mejitkan potensi dan membuat segalanya menjadi mungkin terjadi. Namun tentunya jika mimpi ini dipoles dengan Doa yang tulus serta ikhtiar yang maksimal.

Banyak teori yang menjelaskan tentang kekutan impian, dalam hal ini yang paling memberikan inpsirasi dan menarik bagi ku adalah apa yang telah dikatakan oleh Andrea Hirata bahwa awlilah semuanya dengan mimpi, jangan takut untuk bermimpi. Yah setidaknya seperti itu, ketika kita takut untuk bermimpi berarti kita takut untuk sukses, dan berarti kita menutup peluang yang dekat serta mematahkan potensi yang sebenarnya kita miliki. Berbicara soal potensi, Sebenarnya setiap orang mempunyai potensi dan kesempatan yang sama, namun tidak semua orang bisa memanfaatkkanya, karena tidak setiap orang mampu menyadari. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk membangkitkan potensi dan memanfaatkan peluang dengat cepat, salah satunya dan dipercaya sebagai yang paling manjur adalah dengan mimpi tadi. Mimpi dapat menjadi tujuan bagi kita dalam berjalan, serta menjadi alas an bagi kita untuk tegar dalam berjalan. Coba kita bandingkan ketika kita berjalan tanpa tau kemana akan menuju dan tak tau apa alasan kita untuk berjalan. Tentu semuanya terasa biasa saja bahkan mungkin kita malas untuk berjalan. Sekarang bandingkan dengan ketika kita berjalan dengan tujuan yang jelas misalnya Ingin kepuncak gunung agar dapat melihat Pemandangan yang super indah. Ya itu lah mimpi, kita bermimpi untuk melihat pemandangan yang indah. Tentu langkah kita akan berbeda dengan langkah yang berjalan tanpa tujuan. Langkah kita akan lebih cepat dan penuh semangat, karena ingin cepat mengejar impian kita itu. Meski lelah kita akan terus berjalan demi impian itu.Begitulah mimpi, dapat menjadikan yang tak mungkin menjadi mungkin, tentunya jika di poles dengan doa dan iktiar tadi. … duh kok jadi serius gini yah hehehe…
Si kumbang, Dari ujung langit lewat dikit mengejar impian Kenegri Paman sam.
Well tadi sudah dijelaskna tentang Desa yang diujung langit lewat dikit dan Juga mengenai impian, sekarang apa hubunganya, oce akan ku jelaskan. Well cerityanya ada seorang anak, namanya Aku… untuk lebih mudahnya sebut saja namanya Si Kumbang 23 tahun, dia anak Seorang petani yang tinggal di Desa yang ada diujung langit lewat dikit tadi (profile dan penjelasan tentang kondisi ornag tua si kumbang ini dapat di baca di posting sebelumnya di blog ini, tapi lupa apa judulnya heheh). Si Kumbang ini mempunyai impian, yah awalnya sih ketika dia masih kecil cita-citanya sangat sederhana sekali yaitu menjadi seorang suami yang baik. Menurutnya seoarng suami yang baik itu adalah yang bisa memberikan nafkah pada keluarganya. Trus bias bantu-bantu masak, nyuci pakain de el el lah pokoknya. Cita-citanya ini pernah disampaikan ketika pertama kali ia masuk dibangku sekolah. Ketika itu salah seorang guru menayai cita-citanya. Dengan tegas ia berkata “aku ingin menjadi seorang suami yang baik”. Tak ayal kata-katanya itu membuat seluruh kelas tertawa. Ternyata cita-cita itu mereka anggap aneh, padahal gak juga kan? Kan? Iya kan? Heheh maksa made on.

Seiring waktu berjalan, si kumbang itu mulai menyadari ternyata untuk menjadi suami yanhg baik, ia harus mempunyai pekrjaan yang baik. Dan menurutnya saat itu dengan sekolah yang baik, besar kemungkinan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik. Meski tetap tidak berani bermimpi terlalu jauh mengingat segala keterbatasan yang dimiliki keluargany. Ia merasa mimpi itu harus sesuai dengan keadaan keluarga, harus sesuai dengan apa yang ia miliki saat it dan harus sesuai dengan apa yang dapat ia lihat disekelilingya saja. Yah karena kemampuan orang tunya terbata, serta sebagian besar keluarganya beprofesi sebagai guru, ia pun memberniakn diri untuk bercitan-cita melanjutkan ke perguruan tinggi setelah selesai sekolah. Memilih jurusan keguruan dengan harapan setelah selesai dapat menjadi guru dan kemudian menikah, trus jadilah seorang suami yang baik hehehe simple kan… (harus dijawab iye red)
Setelah menyadari itu ia pun bersungguh-seungguh sekolah smbil lirik kiri-lirik kanan melihat-lihat calon istri kelak heheh..,. hasilnya lumayan ia berhasil menyelesaikan sekolah dengan baik dan baiknya lagi dia diterima di keguruan program studi pendidikan bahasa inggris. Sungguh tak disangka-sangka ternyata disinilah titik balik si kumbang. Disini ia mulai menyadari betap luasnya dunia ini, serta dengan ilmu bahasa inggris yang ia miliki (walau pas-pas an sih hehehe English Ketapang) ia sangat menyadari bahwa peluangnya untuk keliling dunia sangat lah besar. Ia pun mulai berani untuk bermimipi lebih, bermimipi bebas tanpa batasan, bermimpi lepas, tak kenal ukuran. Yah itulah dia yang telah melupakan semua keterbatasan untuk bermimpi. Sekarang, baginya keterbatasan bukanlah kendala untuk bermimpi, melainkan merupakan sebuah keniscayaan yang dikirim untuk menguji seberapa besar keinginan kita untuk mencapai impian, serta seberapa sungguh-sungguh kita berusaha. Yah setidaknya itulah yang ia fikirkan untuk melebur semua keterbatasan itu menjadi energy pembakar semangat untuk mengejar apa yang telah menjadi obsesinya. Obesi keliling dunia….
Ia tahu untuk membuat impinya keliling dunia terwujud, salah satu cara yang paling baik adalah dengan mengikuti program beasiswa yang ada. Maka sejak itu satu persatu program beasiswa ia daftari, namun hasilny “maaf anda belum beruntung, silakan coba lagi”. Kegagalan-demi kegagalan ia lalui, namun ia tak kenal putus asa, karen impian itlah yang membnuatnya terus bertahan. Sampai pada suatu ketika, pada suatu hari ia menemukan pengumuman beasiswa dari Koran yang dibeli pacar temnya. Disna tertulis peluang utnuk mengikuti pendidikan Community College di USA. Disana juga tertulis salah satu jurusan yang tersedia adalah media sesuai dengan pekerjaan ya sekarang. (o iya tadi lupa kuceritakan kalau dia juga bekerja di TVRI stasiun kalbar selain kuliah. ) melihat peluang peluang itu pun ia langsung menulis lamaran. Berkaca dari pengalaman sebelumnya, dalam mendaftar program beasiswa keluar negeri, hal yang paling penting adalah pengisian formulir, terutama bagian essay. Tidak mau terulang kesalahan yang sama, ia pun langsung mencari orang pintar untuk memohon bantuan dan akhirnya ia menemukan yaitu salah seorang dosenya Pak uray namanya.

Setelah menyelesaikan pengisisna form, ia pun mengirim formulir itu kealamat yang tertera, yaitu ke gedung Aminef di Jakarta. Sebenarnya deadline pengumpulan formulir pendaftaran itu masih satu bulan lagi, namun ia tetap saja mengirimkan formulir itu dengan harapan mendapatkan kemudahan dari panitia sebagai pengirim tercepat atau paling tidak masuk sepuluh besar tercepat hehe….
Bersambung….